SELAMAT DATANG DI BLOG RADIO TENGKORAK DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DAN MOHON MAAF APABILA KOMENTAR2 ANDA PADA BLOG INI BELUM DIBALAS KARENA KESIBUKAN RUTINITAS, TAPI AKAN SAYA BALAS SATU PERSATU, MOHON SABAR YA...SALAM TERBAIK
Tampilkan postingan dengan label IT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IT. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2013

POLA FRACTAL

Djoko Haryono


Sumber artikel ini saya ambil dari postingannya Om Djoko Haryono di Facebook Group HOME BREW PROJECT ( CB RADIO, ANTENNA, SWR, AUDIO, MICROPHONE, BOOSTER, etc )

Kata atau istilah Fractal berkaitan dengan “Sifat fractional atau sebuah susunan pola bentuk kombinasi yang terdiri dari ( banyak ) bagian2 kecil atau lebih kecil”. Kombinasi itu umumnya berupa ( menghasilkan ) sebuah pola yang unik , indah , seringkali secara keseluruhan “berubah” menjadi sangat rumit meskipun kalau hanya diamati 1 fraksi / bagiannya saja amatlah sederhana”.

Jendela atau hiasan KACA TIMAH ( potongan kaca kecil2 berwarna warni yang dirangkai menggunakan timah sehingga membentuk lukisan indah penuh warna warni ) yang sering kita lihat pada bangunan2 kuno peninggalan Belanda , atau gereja2 tua , gedung2 lama , adalah termasuk dari pattern/pola Fractal tsb. Jadi Fractal bisa berarti :

1. Terdiri dari banyak bagian2 , atau
2. Potongan2 kecil ,
3. Bentuk susunan yang rumit , bisa beraturan , tapi bisa pula … tidak beraturan yang “beraturan” ( acak tetapi indah ) ……
4. Sebuah pola yang terus berulang – ulang.

Diatas ini adalah foto sebuah contoh dari apa yg disebut sebagai pola Fractal tsb. Foto tsb. ( dijepret sekitar 6 tahun lalu ) memperlihatkan saya sedang berdiri 6 meter diatas “lukisan Fractal”.

Saya berdiri ditepi salah satu kolam membrane ( diaphragm ) yang tidak ada airnya sebab sedang dikuras untuk dilakukan maintenance. Kolam ini berbentuk bak yang kedalamannya sekitar 6 meter dan panjang sekitar 100 meter. Ada beberapa kolam/bak semacam yang posisinya berjajar jajar. Yang terlihat ini adalah salah satu yang sedang di “maintenance”.

Didasar setiap bak itu ada ribuan lingkaran2 hitam yang tersusun rapi membentuk “kolom” dan “baris” yg panjang. Lingkaran2 itu kalau kita dekati / lihat adalah berbentuk piringan2 membran tipis bergetar. Pada permukaannya terdapat “jutaan” pori2 atau lubang2 micro untuk mengeluarkan udara dari compressor ( di compressor house yg agar jauh dari kolam ) yg. dihembuskan kedalam setiap “kuncup” membrane tsb.

Pada kolam yg sudah diisi penuh dengan air , udara ( oxygen ) yg disuntikkan kedalam air menggunakan pori2 mikro semacam ini , akan keluar dari membrane berupa gelembung2 yg luar biasa kecil ukurannya sehingga yg terlihat hanyalah dalam air seperti dipenuhi busa yg kalau dipegang sangat lembut. Ini adalah cara melarutkan ( menambahkan ) oxygen kedalam “air minum” ( = air bersih ) yang diproduksi di instalasi pada industri dimana saya pernah bekerja.

Disana , baik pada instalasi Water Treatment maupun instalasi waste Water treatment oxygen dilarutkan ke air dengan beberapa cara. Yang terlihat instalasinya memiliki pola Fractal ini adalah sebagian dari instalasi water Treatment , sedang pada Waste Water Treatment ( yg. mengolah air limbah yg kebih kental / kotor agar kembali jadi aman /bersih ) oxygen dilarutkan menggunakan propeller/kincir2 raksasa yg disebut Aerator.

Dimata saya , susunan beribu-ribu diafragma semacam ini adalah sebuah LUKISAN FRACTAL YANG INDAH ( bagaikan antenna fractal segi 3 atau segi 4 yang dipenuhi “semburan” lubang2 fractal ( self frequencies resonance ) yang juga indah.

SISKOMRAD UNTUK MENINGKATKAN SAFETY PADA KEGIATAN CAVING / SPELEOLOGI.



Sumber artikel ini saya ambil dari postingannya Om Djoko Haryono di Facebook Group HOME BREW PROJECT ( CB RADIO, ANTENNA, SWR, AUDIO, MICROPHONE, BOOSTER, etc )


Silahkan abaikan postingan saya kemarin yang isinya seputar vhf radio untuk membangun komunikasi antar “tim permukaan” dengan “tim caver” yang sedang berada dibawah tanah , karena kali ini saya ingin menggantikannya dengan informasi lanjutan ( pengganti ) yang lebih baik.

Meski saya sendiri bukan anggota organisasi speleologi ( bahkan bukan seorang caver )saya tetap ingin men-sharing-kan info ini karena saya pencinta ( masalah2 ) SAFETY, bukan hanya bagi safety dilingkungan pabrik atau industry yang sering saya hadapi , namun juga safety disegala bidang selalu menarik perhatian saya ( safety di jalan raya , safety pada kegiatan outdoor dsb ).

Meski info yang saya berikan ini hanya “seujung kuku” ( sedikit ) , namun saya harap bisa menjadi titik start bagi para speleolog ( speologist ) Indonesia ( yang saat ini masih berduka karena tewasnya beberapa anggota mereka dalam musibah datangnya “banjir” dalam goa bawah tanah yang mereka telusuri ) untuk melangkah menuju “memiliki peralatan komunikasi radio yang mampu menembus lingkungan expedisi mereka yang penuh penghalang / barrier” tsb.

Dan semoga itu bisa semakin meningkatkan standard SAFETY mereka dimasa depan.

Saya tidak akan menguraikan panjang lebar tentang detil dari informasi yang ingin saya sumbangkan , karena saya lebih mengharap rekan2 caver Indonesia ( dan rekan2 HIKESPI tercinta ) bisa membacanya sendiri secara lengkap.

Bantuan saya hanya sekedar menunjukkkan link internet ( situs / website ) nya saja. Dengan mempersilahkan untuk mempelajarinya sendiri itu akan meminimalisir kemungkinan saya menjelaskan secara kurang lengkap ( atau salah menterjemahkan atau slah meng-interpretasikan apa yang dimaksudkan oleh penulis asli referensi2 / artikel tersebut.

Saya hanya ingin memberikan ringkasan dari fungsi dan “strata” dari link2 tsb. sbb. :

1. Jika para caver ( atau HIKESPI ) –misalnya- memiliki salah seorang anggotanya yang punya hobby berkutat dengan rangkaian2 electronic , maka mereka bisa memulai membuat Sistem Komunikasi Radio ( Siskomrad ) untuk “menembus kedalaman tanah” itu dengan membuat sendiri radio komunikasi 2 arah buatan sendiri ( home brew ) seperti yang dibuat oleh seorang amatir radio yang kebetulan juga seorang caver.

Silahkan membaca link berikut ini :

http://ke7hr.com/caveradio/HFunderground.pdf dan atau

http://ke7hr.com/caveradio/
( Keterangan : KE7HR adalah callsign dari ham ( amatir radio ) / caver yang merancang rangkaian tsb. ).

Link-link lain yang bisa di klik antara lain:

http://caves.org.uk/radio/comms_in_caves.html

http://www.scavalon.be/avalonuk/technical/radio1.htm

http://naylorgr.perso.cegetel.net/cave_radio/

http://www.scavalon.be/index.htm

Dari link-link diatas teman2 akan bisa mempelajari tentang beberapa jenis CAVING RADIO ( CAVE RADIO ) baik itu yang disebut NICOLA SYSTEM , John Hey Phone , 87 kHz SSB ( 10 watt ) dsb.

Kalau yang ingin dipelajari adalah OGOPHONE atau MOLEPHONE ( jenis cave radio conventional / lama ) tentu perlu searching sendiri lebih jauh.

Untuk sementara baru ini yang bisa saya sumbangkan bagi teman2 caver Indonesia.
( perlu diketahui bahwa dipasaran ada radio komunikasi yang khusus untuk mendukung kegiatan caving / speleologi. Beberapa merk Cave radio atau “Nikola System” bisa dipesan / dibeli dari pasar internasional ).

SAFETY FIRST. HOPE 4 THE BEST , BE PREPARED 4 THE WORST.

Surabaya 22.03.2013
Djoko Haryono.

ERA FRACTAL SUDAH TIBA.



Sumber artikel ini saya ambil dari postingannya Om Djoko Haryono di Facebook Group HOME BREW PROJECT ( CB RADIO, ANTENNA, SWR, AUDIO, MICROPHONE, BOOSTER, etc )


Sebuah “keanehan” sedang muncul. Sebuah kemajuan teknologi baru sudah lahir dan sedang muncul. Teknologi antenna fractal sudah tiba. Dimasa depan ia akan memberikan manfaat dan perubahan besar dibidang militer , cara penerimaan siaran TV digital dan berbagai model broadcasting lainnya , SDR radio dan mempengaruhi dunia komunikasi radio secara umum.

Penemuan dan pengembangan antenna fractal adalah sebuah fenomena. Kita sedang benar2 memasuki sesuatu ( era ) yang baru.
Mempelajari teori tentang antenna Fractal seakan kita sedang “merusak” atau meninggalkan sebagian besar teori klasik tentang antenna. Ada sejumlah fenomena baru yang “ditemukan” :

1. Teori bahwa “kekuatan” ( sensitivitas dan kemampuan )/gain antenna berbanding lurus dengan aperture area ( terjemahan bebasnya kurang lebih adalah luas area tangkapan/cakupan antenna yang sedikit lebih luas dari ukuran luas material antenna ) seakan diobrak abrik dan tidak bisa “masuk” lagi dalam realitas kinerja antenna fractal.

2. Jika selama ini sebuah antenna yang dikecilkan ukuran fisiknya demi alas an kepraktisan , kemudahan bergerak dsb. akan berakibat menurunnya kinerja antenna tsb. , maka hal itu tidak berlaku lagi pada antenna fractal.

3. Jika selama ini antenna2 jenis wideband sebetulnya tidak lebih dari antenna dengan sifat2 “beberapa band yang digabungkan menjadi satu” , maka antenna fractal benar2 merupakan antenna yang ( bisa didesign ) dengan kemampuan ( sangat ) wideband.

Kalau selama ini range / coverage terbesar sebuah antenna multiband rationya hanya sekitar 10 : 1 , maka dimasa depan nanti akan lahir antenna2 fractal yang memiliki coverage ( frequency ) ratio sampai 200 : 1.

4. Kendaraan2 militer yang sekarang ( yang sedang berperang ) dilengkapi dengan antenna2 yang menjulang tinggi , kedepan nanti antenna2 itu akan menghilang dan digantikan dengan antenna2 “ajaib” yang sangat kecil dan ringkas serta praktis. Demikian juga dengan berbagai sistem radio lainnya.

Kalau antenna konvensional yg sekarang masih dipakai dengan berbagai ukuran dan bentuk ( yang relative besar / panjang jika dibandingkan dengan panjang gelombang dari frekuensi yang digunakan ) dirancang menggunakan teori elektromagnetik , maka antenna fractal dirancang menggunakan modern geometry yang merupakan pengembangan dari geometri Euclidian.


 Antenna fractal yang ukuran fisiknya “sangat mengecil” dibandingkan antenna konvensional , lebih mirip sebagai sebuah karya seni ( seni batik ? ). Antenna modern itu akan berupa tekukan2 yang rumit atau sebuah bidang ( plat atau silinder dsb. ) yang dipenuhi lubang2 geometris yg rapi atau yang “tidak beraturan” , kompleks / rumit namun indah bagaikan sebuah karya seni.

Berbagai deretan , susunan, ukuran , variasi jarak dsb. yang bagaikan seni batik itu sebetulnya merupakan kekayaan kumpulan dari “berbagai nilai capacitance ( ada yg kecil , sedang , tinggi ) dan inductance” yang semuanya tersedia dalam sebuah bidang kecil.

Tersedianya berbagai macam ukuran “capasitor” dan “inductance” dalam batik’an lubang2 , atau celah , guratan , atau irisan indah itu akan menyebabkan “berapapun frekuensi” yang dimasukkan ke antenna tsb. ia akan memilih sendiri jalur2 mana yang paling resonans , lubang2 mana , ukuran berapa yg akan dihindari oleh frekuensi tertentu , dan jalur terbaik mana yang akan dipilih.

Setiap frekuensi akan memilih ukuran jalurnya sendiri dan dalam waktu secepat kilat selalu langsung menemukan kondisi resonansnya.

Banyak peralatan matching dan tuning akan bisa dihilangkan ( tidak dibutuhkan lagi ).

Kita jadi ingat pada kalimat ini :

“The shorthand is the ‘butterfly effect.’ A butterfly flaps its wings in
Peking, and the weather in New York is different.” - Dr. Ian Malcolm
explaining chaos theory to Gennaro. “Fractals are a kind of geometry,
associated with a man named Mandelbrot.” - Malcolm talking to Grant
( Michael Crichton, penulis kisah fiksi ilmiah Jurassic Park. 1990 ).

Ya , sekarang kita sedang bersiap siap ( dan sudah mulai ) memasuki era baru dibidang komunikasi , era antenna Fractal.

Sebuah bidang baru yang masih terbuka lebar untuk penelitian yang luas.

Memang sudah bermunculan ratusan paper tentang antenna Fractal , sudah ada puluhan patent dan sudah ada sejumlah perusahaan yang mulai memproduksi dan menjual antenna fractal.

Namun itu baru permulaan. Kita baru membaca halaman satu ( meminjam istilah Anas Urbaningrum ).

Masih akan ada ratusan dan ribuan halaman lagi yang akan digali para peneliti dimasa depan.

Djoko Haryono.

JANGAN HERAN JIKA TERNYATA DIA ( MEREKA ) SEDANG BERKOMUNIKASI GRATIS ANTAR NEGARA ATAU BENUA.



Sumber artikel ini saya ambil dari postingannya Om Djoko Haryono di Facebook Group HOME BREW PROJECT ( CB RADIO, ANTENNA, SWR, AUDIO, MICROPHONE, BOOSTER, etc )

HT ( Handy Talky , alat komunikasi radio 2 arah ) bisa “selemah” hanya menghubungkan satpam antar lantai pada sebuah mall saja , bisa juga menghubungkan antar 2 atau lebih penggunanya beberapa puluh km atau antar kota dengan memanfaatkan repeater yang didirikan diatas bukit , atau menghubungkan kelompok penggunanya yang terpisah antar propinsi melalui echolink / interlink antar repeater.

Tapi jangan terkejut ( heran ) jika suatu saat anda menyaksikan seorang ham ( amateur radio ) di Indonesia menggunakan HT dan sedang berbicara dengan seorang ham lain ( yang juga hanya memegang HT ) di Meksiko , atau Jerman , Inggris , jepang atau bagian dunia lainnya. Selain melakukan komunikasi suara / voice , mereka juga sering melakukan komunikasi data menggunakan laptop yang dihubungkan ke HT. Dan itu mereka lakukan tanpa dikenai biaya “pulsa” ( biaya komunikasi ) apapun alias gratis.
 Namun saling komunikasi gratis antar warga negara menggunakan HT semacam itu , secara umum baru bisa dinikmati oleh para ham / amateur radio saja. Dunia amatir radio memang dunianya para penggemar kutak kutik ( melakukan berbagai penelitian , percobaan dan pengembangan radio maupun hal2 yang terkait dengannya. Mereka bukan hanya kumpulan orang2 yang praktis selalu kebanyakan mengetahui terlebih dahulu setiap ada perkembangan teknologi komunikasi dan electronic terbaru , tetapi sebenarnya merekalah didunia ini yang menjadi innovator , penggagas , pencoba dan peneliti dari perkembangan itu sendiri.

Disetiap Negara , setiap organisasi amateur radio selalu mendapat prioritas I dan tempat ( diberi hak ) berupa “slot-slot” ( disebut band band ) tertentu gelombang radio yang demikian banyak dan luas , mulai dari frekuensi terendah sampai yang tertinggi.

Di era sekarang , seorang ham mampu berkomunikasi dengan ham lainnya dengan hanya menggunakan HT , yang keduanya berada dinegara atau benua yang berbeda, bukanlah hal yang aneh lagi.
Meski JUMLAH MEREKA YANG SUDAH MAMPU MELAKUKAN ITU sudah semakin banyak , namun jika dibandingkan dengan JUMLAH SELURUH ANGGOTA dari keseluruhan organisasi amatir radio yang ada didunia , maka sebetulnya ham yang sudah mampu menguasai teknologi tersebut masih sangat kecil. Sebagian besar ham belum mampu melakukan kontak “HT to HT” antar benua semacam itu. Bahkan masih banyak ham yang belum mengenal teknologinya.

Teknologi maju itu disebut sebagai teknologi D-STAR ( D Star Communication ). Jumlah yang sudah menguasainya relative masih sangat sedikit. Hal itu bukan disebabkan oleh mahalnya peralatan karena secara umum peralatan untuk melakukan komunikasi D-Star relative murah dibandingkan dengan kemampuan sistem itu sendiri.

Yang menjadikan jumlah yg menguasai masih sedikit adalah karena ini sebuh teknologi tinggi yang menuntut pengetahuan yang cukup ( disiplin tinggi , ketertiban kerja , kepatuhan pada peraturan , serta prosedur yang “tidak terlalu mudah” untuk dipelajari ).
 D-Star BUKANLAH nama alat atau nama produk. D-Star sebetulnya adalah nama suatu Protocol atau metode ( metode kerja pada jaringan ). Setiap pengguna harus mengetahui terlebih dahulu apa yg sedang dihadapinya , bagaimana kerjanya , bagaimana “route perjalanan” signal ( voice maupun data ) nya maupun signal lawannya dsb. Jika ia salah “membangun” ( memilih dan menunjukkan jalan bagi suara dan datanya sendiri , maka semuanya itu akan “nyasar kemana mana” dan tidak pernah sampai ke destinasi yang diinginkan ( alias gagal berkomunikasi ).

Berkomunikasi menggunakan ptotocol D-Star pada prinsipnya adalah “membentuk kerjasama” antar repeater dengan jaringan internet dunia.

Beberapa pelajaran dasar tentang komunikasi D-Star bisa kita pelajari dari link berikut ini :

http://mdrc.org.au/News_Events/Newbies_Guide_to_D-Star.VK3ANZ.pdf

http://arvideonews.com/otherstuff/Repeaters_from_A_to_D_by_KN4AQ.pdf

http://www.d-star.asia/misc/D-Star+Repeater.pdf

http://zl2vh.org.nz/pdf/other/D-Star%20for%20Dummies%20(Reference%20Edition)4.0.pdf

Sementara jumlah ham yang sudah menguasai komunikasi D-Star relative masih sedikit ( disbanding jumlah seluruh ham yang ada didunia ) , ternyata sebagian ham lagi ( tentunya mereka2 yang sudah punya “jam terbang tinggi” dengan D-Star , malah sudah berlari lebih cepat lagi. Mereka sudah mulai menyusun konsep pengembangan sistem komunikasi “D-Star Masa Depan” atau yang disebut komunikasi SERA ( Spectacular , Expose , In-Depth Report ).

Saya sendiripun cukup kewalahan ( apalagi setelah non aktif dari dunia ham ) atau kesulitan mengikuti kecepatan lari dari para experirenter / pengembang didunia teknologi komunikasi ini. Lari mereka benar2 cepat sekali. Sangat tidak mudah untuk mengikutinya karena semuanya selalu sangat teknis dan memiliki prosedur2 yang “sangat Dallam dan berat” ( maksudnya complex. Membutuhkan kebiasaan pada taat prosedur dan kedisiplinan.
 Icom 92 AD itu juga bisa dipakai. Saya browsing ttg ID-51 A itu belum pernah nemu referensi tentang kekurangan kualitas audio tersebut. Jadi selama belum nemu referensi lain lagi yang semacam , maka saat ini saya ( masih ber-asumsi ) seputar adanya 2 kemungkinan yaitu :

1. Bisa jadi yang bilang bahwa ID-51 A itu audionya kurang bagus adalah penjaul/supplier yang hanya punya stock type IC-92 AD aja dan itu hanya trik agar yang datang ketokonya "nggak usah nanya2 barang yg nggak ada , dalam hatinya dia pengin pembelinya segera membeli barang yg dia punya stock nya saja".

Meski belum tentu ini yang terjadi, tetapi dalam "ilmu" perdagangan trik semacam itu teramat sering terjadi ( banyak sekali penjual yg "men-jelek2 kan" barang lain yang tidak dia jual.

2. Kemungkinan ke 2 adalah memang ada perbedaan di audionya , tapi saya yakin ( kalau "kelemahan" itu memang ada ) bukan kelemahan audio yang "parah". Saya percaya bahwa audionya ID-51 A masih sangat layak untuk dipakai berkomunikasi.

Memang bisa saja kualitas audio Icom ID-51 A tidak se "hi-fy" audionya 92 A atau 92 AD tapi kualitas audio untuk alat komunikasi, menurut saya tidak harus se "hi-fy" sound system untuk mendengarkan musik ( bahkan -misalnya- bagi penggemar SSB , audionya transceiver SSB pun bisa malah ngangeni/membuat rindu karena khas.

Dugaan saya mungkin suaranya Icom ID-51 A tidak selantang 92 AD karena ( mungkin lho ) membran speakernya dibuat dari bahan yg lebih mahal atau lebih khusus ( artinya bukan membran kertas ) untuk memenuhi syarat tuntutan standard dari Icom ID-51 A itu sendiri yang tahan air ( bisa tercelup air sampai sedalam 1 meter selama 30 menit ).

Eh , maaf , tapi enggak begitu juga sih. Tadinya saya lupa dan seingat saya ID-92 AD belum berstandard "boleh tercebur air. Ternyata ID-92 AD pun sudah tahan air.

Kalau begitu saya kembali lagi , lebih percaya pada butir 1 diatas.

Rabu, 23 Mei 2012

FLY BY WIRE , KECELAKAAN PESAWAT SUKHOI SSJ-100 + TEKNOLOGI POWER BY WIRE PESAWAT F-35




Sumber artikel ini saya ambil dari postingannya Om Djoko Haryono di Facebook Group HOME BREW PROJECT ( CB RADIO, ANTENNA, SWR, AUDIO, MICROPHONE, BOOSTER, etc )



Pesawat N-250 buatan IPTN ( PT. Dirgantara Indonesia ) pernah diperkenalkan sebagai pesawat commuter canggih pertama didunia yang sudah menerapkan teknologi Fly By Wire ( FBW ). Saya sendiri sebetulnya belum paham benar apa definisi “pertama didunia” itu. Apakah teknologi FBW nya N-250 itu adalah betul2 yang pertama kali diterapkan pada pesawat commercial yang ada didunia ? ataukah maksudnya pertama kali diterapkan pada pesawat penumpang/commercial kelas commuter dengan jumlah penumpang “hanya” 50 orang ( pesawat yang cocok untuk penerbangan antar pulau di Indonesia yg negara kepulauan ini ? ). Tetapi rasanya pesawat jenis lain ( pesawat tempur ) tidak termasuk kedalam daftar yang dimaksud sebab kalau pesawat tempur ( yang selalu harus sangat canggih karena manuver2 dan tugasnya yang berat ) mestinya sudah lebih dulu menggunakan teknologi tersebut.

Apapun definisi dan batasan dari yang dimaksud dengan “penerapan FBW pertama didunia” yang diumumkan dulu , pesawat IPTN produksi Indonesa sudah “didaftar” / di claim sebagai pesawat penumpang/sipil pertama yang berteknologi FBW.

Belum sebulan yang lalu pesawat Sukhoi SSJ-100 ( yang di-sebut2 berteknologi canggih paling advance –namun dengan catatan “diantara berbagai instrument dan sistem canggihnya , belum terbukti atau ditemukan bukti bahwa SSJ-100 juga sudah dilengkapi dengan ELT 406 MHz sebagai salah satu syarat dari pesawat yang “sudah tidak jadoel”- ) mengalami kecelakaan menabrak tebing gunung Salak.

Jadi Indonesia sudah mencetak 2 jenis prestasi dibidang teknologi advance Fly By Wire yaitu : Merancang , Menguji & Menerapkan pesawat commuter 50 seat yang pertama didunia yang berteknologi Fly By Wire. “Prestasi ke 2” dari urusan FBW ini adalah “Pesawat commercial berteknologi FBW yang pertama kali jatuh didunia” , jatuhnya juga di Indonesia. Prestasi FBW kita sudah bervariasi. Sudah 2 jenis prestasi FBW yang kita miliki meski keduanya berbeda. Yang 1 prestasi membanggakan , yang lain prestasi memprihatinkan.

SEMOGA TIDAK TERULANG LAGI , APALAGI KEDEPAN NANTI ( KARENA TEKNOLOGI PENERBANGAN AKAN BERKEMBANG SEMAKIN CANGGIH ) PROFESIONALISME PARA PENERBANG , TEKNISI & SEMUA PIHAK YANG TERKAIT DENGAN DUNIA PENERBANGAN DITUNTUT UNTUK MAMPU “MENGIKUTI” PERKEMBANGAN TEKNOLOGI ITU.

Dibelakang / setelah teknologi FLY BY WIRE , dunia penerbangan –mau tidak mau- akan memasuki era teknologi POWER BY WIRE , lalu era FLY BY OPTICS , lalu FLY BY WIRELESS , dan juga masih akan semakin canggih dengan memasuki teknologi INTELLIGENT FLIGHT CONTROL SYSTEM /IFCS.

Mau tidak mau , suka atau tidak suka , teknologi yg semakin tinggi dan “rumit” itu akan bertahap diterapkan , karena memang kurang lebih begitulah tahapan perkembangan didunia sistem kontrol maupun ( juga ) komunikasi. Sebelum dunia penerbangan sampai ketahap menerapkannya ( didunia penerbangan membutuhkan waktu penelitian & pengembangan lebih panjang karena dunia penerbangan memiliki tingkat resiko dan tuntutan safety paling tinggi, selain juga sangat mahal ) semua tahapan itu sudah “terbaca” urutan perkembangannya sistem kontrol & otomasinya pabrik2 dan dunia industri. Demikian juga didunia komunikasi , tahapannya sama ( analog dulu, baru digital. Wire dulu , baru wireless /infra red , optic , blue tooth dst ).

Di industri step nya juga begitu. Sistem kontrol listrik dulu , by wire dulu ( disebut sistem relay ) , baru masuk ke hydraulic/pneumatic ( mekatronika ) , PLC , DCS , QCS. Mulai dari analog dulu baru digital.

Jadi suka atau tidak suka , para teknisi penerbangan kita , para pilot kita , ATC kita , anggota KNKT kita , orang Perhubungan kita harus makin “men-canggih-kan diri” , belajar lebih berat , bekerja makin professional agar mampu mengikuti perkembangan teknologi kedepan.

Siapa tahu kedepan nanti Indonesia juga akan punya sendiri pesawat tempur F-35 ( gambar diatas ) yang sudah berteknologi POWER BY WIRE , dimana semakin banyak peralatan actuator jenis hidrolik yang dihilangkan dan diganti dengan servo dan penggerak listrik. Suka tidak suka , kedepan nanti dunia penerbangan sipil kita ( entah kapan. Bisa saja datang lebih cepat dari yang kita duga ) juga akan “direpotkan” dengan teknologi tinggi PBW.

Propagasi hari ini