SELAMAT DATANG DI BLOG RADIO TENGKORAK DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DAN MOHON MAAF APABILA KOMENTAR2 ANDA PADA BLOG INI BELUM DIBALAS KARENA KESIBUKAN RUTINITAS, TAPI AKAN SAYA BALAS SATU PERSATU, MOHON SABAR YA...SALAM TERBAIK
Tampilkan postingan dengan label Electronic Issues. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Electronic Issues. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2014

LUMPED ELEMENTS MATCHING CALCULATOR






LUMPED ELEMENTS MATCHING CALCULATOR

By : Djoko Haryono

Link dibawah ini adalah salah satu ( online ) calculator yang bisa membantu kita dalam melakukan perhitungan2 matching antenna – line , terutama bagi mereka yang selama ini sudah akrab dengan cara matching antenna berbasis “MENGHINDARI ADANYA REFLECTED POWER ( REFLECTED POWER SEKECIL MUNGKIN )” alias metode matching yang “Menyukai SWR serendah mungkin / sebisa mungkin SWR mencapai 1 : 1” dan sekarang mulai tertarik untuk mengembangkan diri pada metode “CONJUGATE MATCHING” atau “MACHING YANG MENGHASILKAN EFFISIENSI TERTINGGI ( HIGHEST TRANSFERABLE POWER )’.

Kalau metode matching yg berusaha mendapat SWR terendah biasa dan lebih cocok dilakukan oleh mereka yang bekerja dengan saluran transmisi yang memiliki rugi2 / losses besar terutama menggunakan Flexible Coaxial , maka para perancang system komunikasi radio yang sudah menguasai perancangan system Conjugate Matching ( matching yang tidak memerlukan nilai SWR rendah / system yang memiliki SWR tinggi 3 : 1 atau bahkan 5 : 1 menghasilkan pancaran terkuat bahkan memiliki keunggulan lain berupa bandwidth terlebar.

MEREKA MENDAPATKAN PENCAPAIAN ITU KARENA MEREKA LEBIH BERFOKUS DAN MENYADARI KEUNGGULAN MEMBANGUN PERANCANGAN SISTEM YANG MENGHASILKAN LOSSLESS LINE ATAU VERY LOW ATTENUATION LINE ( NON DISSIPATIVE LINE ).

Kesulitan ( kerumitan ) utama dari metode Conjugate matching adalah …. PARA PRAKTISINYA “DITUNTUT” UNTUK MENGUASAI DASAR2 PER-ANTENNA-AN ( TERUTAMA PENGETAHUAN TENTANG SALURAN TRANSMISI ) SAMPAI KE MASALAH2 NYA YANG PALING VITAL YAITU PERHITUNGAN IMPEDANSI DENGAN SEGALA KOMPLEKSITASNYA , DAN TIDAK HANYA SEKEDAR “YANG PENTING SWR NYA 1 : 1”.
TANPA BERUSAHA MENDALAMI ITU , kita akan “terpaku” dan hanya mengenal “dunia sempit” bahwa matching matching adalah 1 : 1.

Link ( URL ) dibawah ini akan saya tampilkan BERSAMAAN dengan link lainnya. Keduanya adalah “Cara menghitung yang berbeda , namun memberikan HASIL HITUNGAN ( bagian dari metode Conjugate Matching ) YANG SAMA.

Untuk menghitung ada beberapa jalan/cara , misalnya : Menggunakan SMITH CHART , atau menggunakan ONLINE CALCULATOR , atau menghitung langsung menggunakan RUMUS2 , misalnya untuk menghitung ( impedance ) inductor Zl = jw L. Capacitor Zc = 1/ jwC = - j / wC dsb.
Nah , disini kita menghitung dengan 2 cara berbeda namun memberikan hasil yang sama. Kita menghitung dengan menggunakan ONLINE CALCULATOR dan juga dengan menggunakan SMITH CHART.

INI ONLINE CALCULATORNYA.

http://cgi.www.telestrian.co.uk/…/www.telestrian.…/smiths.pl

Kalau kita klik , kita akan dihadapkan pada sebuah Network / Skema Jaringan. Kotak paling kanan adalah LOAD ( ANTENNA ). Didepan / sebelum antenna ada 3 block kotak lainnya yang bisa kita isi ( kita gambarkan sebagai ) 2 atau 3 LUMPED ELEMENTS ( Inductor atau Capacitor ). Kita bisa memilih membuat t/T atau L network ( maaf kalau font yang saya pakai kurang tepat ) untuk sesuatu tujuan , baik untuk mematchingkan langsung feed point tsb ke coax atau ke TX , ataupun untuk “mentransformasikan” impedansi antenna ke nilai impedansi lain tertentu untuk suatu tujuan.

Pada latihan ini , kita anggap saja ke 3 block lumped element yg bisa kita isikan / pilih nilainya itu sebagai sebuah unit tuner atau impedance matcher dengan nilai2 Inductor dan Capacitornya yang kita bikin tetap / fixed.

Kalau pada block yang ditengah ( rangkaian parallel ) kita temukan ada pilihan OPEN , itu artinya kita tidak memasang apapun ( baik inductor atau capacitor ) disama. Kalau ini yang kita pilih , artinya kita hanya cukup menambahkan / memasang 1 element saja secara serial.

Sedangkan kotak blok paling kiri akan menunjukkan NILAI IMPEDANSI INPUT ( PADA TUNER ATAU IMPEDANCE MATCHER TSB. ) YANG DIHASILKAN JIKA KITA MEMILIH NILAI2 INDUCTOR DAN ATAU CAPACITOR PILIHAN KITA TADI.

Mari kita coba “kesaktian” online calculator ini dalam menghitung bilangan2 komplex impedansi system antenna kita.

Kita coba memasukkan nilai2 kita ( misalnya ) sbb :
Impedansi antenna 60 – j 30 ohm ( dikotak atas isikan 60 dan kotak bawahnya – 30 ).

Blok didepannya/ disebelahnya kita pilih Capacitor. Isikan nilai 8.72 ( pF ).
Blok yang ditengah isi dengan Capacitor. Nilainya 3.53 ( pF ).

Blok yang dikirinya ( lumped element terakhir ) kita isi dengan Inductor. Nilainya 7.8 nH.
Isikan Frequencynya , misalnya 1000 ( MHz ) = 1 GHz.
Lalu klik CALCULATE.

Maka hasil hitungannya akan muncul. Di input tuner tsb. akan muncul ( menghasilkan ) impedansi yang ( kalau kita ukur pakai Antenna Analyzer nilainya akan ) sebesar Zin = 9.9 + j 19.3 ohm.

Dan pada gambar Smith Chart dibagian atas online calculator tsb. akan muncul titik2 berwarna yang menunjukkan DIMANA LETAK TITIK KORDINAT IMPEDANSI DENGAN NILAI2 TSB. PADA SMITH CHART ( titik2 itu akan mempermudah bagi kita untuk mengetahui KEARAH MANA kita harus bergerak / mem-plot jika kita melakukan perhitungan lanjutannya.

Selamat mencoba menggunakan ONLINE CALCULATOR ini. Anda sudah melakukan SEBAGIAN dari langkah mendapatkan CONJUGATE MATCHING.
LALU BAGAIMANAKAH HASILNYA JIKA KITA HITUNG DENGAN CARA LAIN ( TANPA ONLINE CALCULATOR ) ? HASILNYA AKAN RELATIF SAMA.

Silahkan klik link lainnya berikut ini.

http://empc1.ee.ncku.edu.tw/…/Rf_CH05_Impedance_matching_20…

Lalu silahkan ( buka ) scroll sampai ke halaman 17 ( dari total 25 halaman yang ada ).

Disana kita temukan cara penghitungan tanpa online calculator yang memberikan hasil hitungan input impedancenya ketemu nilainya Zin = 10 + j 20 ohm.

( Kedua hasil tsb praktis sama. Yang di online calculator lebih presisi , sedangkan yang di link lainnya hasilnya dibulatkan keatas ).


Nilai perbandingan swr yg begitu besar,klo di terapkan di transceiver hf,nanti protektor matcingnya berfungsi apa tidak?
 
Tetap berfungsi , tapi meski dilepas juga tidak apa2.

Sekali lagi , yg perlu diingat untuk kita bisa membedakan antara ....... apakah SWR tinggi yang ada pada antenna/line kita itu akan MEMBAHAYAKAN TRANSCEIVER KITA ATAUKAH TIDAK , itu adalah SEPENUHNYA TERGANTUNG DARI "SISTEM APA YANG KITA GUNAKAN".

Kalau kita menggunakan sistem antenna & saluran transmisi YANG LOSSY ( losses / attenuationnya besar ) -dan ini yang paling akrab/paling banyak dipraktekkan orang karena mereka sangat banyak yg menggunakan FLEXIBLE COAX , .... maka ..... TENTU SAJA SWR TINGGI MEMBAHAYAKAN FINAL TX / TRANSCEIVER ANDA.

Tapi bagi sebagian ( hanya sedikit ) experimenter yang sudah banyak bereksperiment & mempelajari saluran transmisi yang LOSSLESS ( very low losses/ attenuation ) semacam LADDER LINE ATAU RIGID COAXIAL , ya SWR tinggi itu akan bisa jadi sahabatnya TX/Transceiver kita.

Sistem yg pertama ( menyetel SWR serendah mungkin ) itu relatif lebih mudah , tapi untuk bisa mempraktekkan sistem kedua ( Conjugate Matching ) itu membutuhkan pengetahuan basic yg lebih rumit. Harus menguasai berbagai masalah COMPLEX IMPEDANCE ( Resistive / Reactive / Inductive / Capacitive / Admittance / Susceptance dsb ) karena semuanya dihitung secara detil.

Jadi yang pertama itu cocoknya bagi kita yang sehari2 berkutat dengan LOSSY LINE alias sistem yg lossesnya besar ( praktis "semua" jenis flexible coax ) , sedangkan sistem kedua yg rumit hitungannya namun mampu memberikan effisiensi tertinggi / pancaran terkuat , cocoknya hanya bagi mereka yang banyak berkutat dengan LOSSLESS LINE yang umumnya didesign sendiri.
 
Ada baiknya juga diketahui bahwa hampir semua sistem komunikasi radio di satelit , radar , station penelitian ruang angkasa , telemetry , peluru kendali , beacon , sistem kendali jarak jauh , sistem antennanya dirancang secara CONJUGATE , artinya dirancang lebih dengan "menghitung secara detil berbagai parameter complex impedancenya". Praktis sangat jarang ada sistem2 tsb yang SWR nya 1: 1. Banyak yang SWR nya tinggi ( tapi effisiensinya optimal karena dampak2 lossless line memang sangat significant berbeda dengan dampak lossy line ).

Sebetulnya CONJUGATE MATCHING itu paling sip ( memang ) kalau diterapkannya pada sistem2 komunikasi radio yang "Single Frequency" atau bisa juga sistem "beberapa frequency tapi switched dan masing2 conjugate".

PROBLEM UTAMA pada amatir radio ( yang membedakan dengan berbagai jenis radio lainnya yg saya tulis diatas ) adalah "amatir hampir selalu bekerja sekaligus pada ( beralih alih pindah ) banyak band dan frekuensi. Itu perancangan conjugate matchingnya minta ampun rumitnya.

TAPI TOH TETAP SAJA PENGETAHUANNYA PERLU DIPELAJARI / DIKUASAI TEMAN2 ..... sebab tanpa mengenal pengetahuan conjugate matching , akibatnya ya sudah sering kita lihat , misalnya .... seorang amatir yang sedang meancang sistem komunikasi single freq pun ( seperti Repeater , station broadcast , beacon , telemetry dsb. ) ya dia umumnya hanya akan tetap "fokus" menggunakan metode "SWR serendah mungkin" kalau dia tidak menguasai dasar2 conjugate matching.

Artinya , pengetahuannya tetap perlu kita pelajari

Ini juga copyan dari FB lain :

Sugeng Aminto :  Pak Djoko ,,apakah bisa di ambil contoh yang mudah..misalnya impedance antena 130 ohm freq di 7.1 MHz,??,maklum saya masih awan terhadap sistem matching cara ini,,Tnx 73

Djoko Haryono : Detilnya dari Impedansi antenna yang anda maksud 130 ohm itu bagaimana ?

( Resistive berapa ohm dan reactive berapa ohm , serta reactivenya kearah mana .... inductive atau capacitive ? sebab pada sistem conjugate matching semua kondisi complex dihitung , tapi kalau dalam sistem yg paling banyak digunakan yg mengacu pada "SWR meter serendah mungkin" kondisi complex impedance diabaikan atau tidak dihitung detil

Yang dibawah ini copyan dari akun FB lain :

Djoko Haryono :  Rekan Sugeng Aminto,  APA BEDANYA ANTARA SISTEM MATCHING YG PALING POPULER ( = SWR SERENDAH MUNGKIN ) DENGAN SISTEM CONJUGATE MATCHING MATCHING YG. RUMIT TAPI MENAWARKAN EFISIENSI TERTINGGI .

CONJUGATE MATCHING : Pada conjugate matching , soal antenna yg anda berikan harus jelas dulu ( tidak hanya freq. kerjanya tapi juga detil dari impedansi complexnya nya harus jelas ). Barulah nanti anda bisa menghitung perancangan matchingnya. Memang hitungannya lebih detil dan rumit , misalnya menggunakan Tabel Smith / Smith Chart.

MATCHING CARA POPULER ( SWR SERENDAH MUNGKIN ).
Selain metode Conjugate , matching juga seing dilakukan dengan cara yang paling "gampangan"/praktis yaitu stel sana stel sini ( potong atau pendekpanjangkan panjangnya radiator antenna lalu stel2 atau geser sana geser sini stelan yg ada dsb ).

Kalau anda akan melakukan matching "cara populer ini" dan data yang anda miliki ( sesuai tulisan anda ) hanyalah "antenna anda impedancenya 130 ohm" yang akan anda match kan ke output TX yang 50 ohm , serta "frekuensi kerja anda 7.1 MHz" .

Maka cara matching versi "gampangannya" ya mudah sekali ( namanya saja sudah "bukan cara detil/cermat" ). Anda bisa lakukan ini :

Zo = ( akar dari ) Zl x Zt
dimana Zo = impedansi dari "matching impedance transformer" dlm. ohm
Zl = Impedansi Load ( = antenna ) dalam ohm.
Zt = Impedansi transmitter dalam ohm.

Dalam kasus anda Zo = ( akar dari ) 130 ohm x 50 ohm
Zo = ( akar dari ) 6500 ohm
= 80.5 ohm

Maka pakailah kabel coax 75 ohm ( ini nilai yg mendekati 80.5 ohm ). Agar coax itu berfungsi sebagai quarter wave transformer ( trafo impedansi 1/4 lambda ) maka buatlah panjangnya dari ujung connector sampai ujung connector 1/4 lambdanya frekuensi 7.1 MHz ( JANGAN LUPA VLOCIT FACTOR DARI COAX YANG ANDA PAKAI HARUS IKUT DIHITUNG ).

Saya belum menghitungnya , silahkan dihitung sendiri. Panjangnya kemungkinan kurang dari 10 meter.

Maka SWR anda nantinya nilainya akan ada disekitar 80.5 : 75 = 1,07 : 1 ( atau dibulatkan , anggap saja 1.1 : 1 ).

Nggak perlu hitungan rumit2. Ini berbeda dengan Conjugate matching , semua parameter complex yg ada di antenna dan saluran transmisi perlu dihitung



Salam ,
Djoko H.

Minggu, 07 Desember 2014

HUBUNGAN ANTARA GAIN & DIRECTIVITY





HUBUNGAN ANTARA GAIN & DIRECTIVITY

By : Djoko Haryono

MENGHITUNG BEAMWIDTH JIKA GAIN DIKETAHUI

CATATAN : RUMUS DIBAWAH INI INI DIGUNAKAN UNTUK ( PADA KONDISI ) MAJOR LOBE DIASUMSIKAN SIMETRIS.

B = 203 : ( √10 ) X

Dimana B = lebar sudut beamwidth dalam O ( derajat ).

X = Power gain antenna dalam dB ( over Dipole ) : 10
( X = dB / 10 )

Beamwidth adalah lebar sudut pada posisi – 3dB pada major lobe

Contoh :

Sebuah antenna memiliki gain 15 dB. X = dB/10 = 15/10 = 1.5

B = 203 / ( √10 ) 1.5 = 203 / 3.1621.5 = 203 / 5.62 = 36.1O

Jadi beamwidth antenna tsb = 36.1O

MENGHITUNG GAIN JIKA BEAMWIDTH DIKETAHUI

Gain = 2 log ( 203 / B )

Pada antenna yang belum diketahui gainnya dilakukan pengukuran beamwidthnya , dan dari beam width itulah gainnya bisa dihitung.

Contoh :

- 3dB dari sebuah antenna dimisalkan selebar 7O

Maka gain X = 2 log 203 / 7 = 2 log 29 = 2 ( 1.462 ) = 2.925

Karena X = dB / 10 dB = 10.X

Jadi gain antenna tsb. dalam dB = 2.925 X 10 = 29.25 dB

BISAKAH SILVER & RHODIUM DISEPUHKAN BERSAMA ?






BISAKAH SILVER & RHODIUM DISEPUHKAN BERSAMA ?

By : Djoko Haryono

Kalau tempohari saya membahas seputar “Mana yg. lebih baik , material antenna ( juga inductor , cavity , resonator ) berlapis perak ataukah emas” , dimana saya jelaskan bahwa EMAS TIDAK LEBIH BAIK DARIPADA PERAK , kecuali untuk perhiasan tentu saja emas lebih berharga , maka kali ini saya ingin menulis tentang keterlibatan RHODIUM.
Tulisan ini membahas singkat seputar :

01. Apa peran RHODIUM pada bahan perak / silver ataupun pada bahan yang disepuh ( dilapis ) perak ?

02. Bagaimana jika antenna ( atau inductor dsb ) yang dilapis perak kemudian dilapisi Rhodium lagi ( jadi ada 2 lapisan yang berbeda dan saling “bertumpuk” ) ?

03. Bagaimana jika PERAK/SILVER & RHODIUM itu tidak “ditumpuk” melainkan “dicampur” dan baru campurannya dilapiskan ( menjadi semacam lapisan slver rhodium alloy ) ?
Pertanyaannya sebetulnya bukan pertanyaan …. “Bagaimana jika ….. dst” tsb. melainkan lebih baik yang kita tanyakan adalah ……. “BISAKAH DILAKUKAN PLATING ( ELECTROPLATING ) BERSAMA ANTARA KEDUANYA ( anodenya sekaligus perak dan rhodium ) ?”

Kalau keduanya ( misalnya ) bisa efektif disepuhkan bersama , lalu electrolytenya harus menggunakan apa ? Kalau tube tembaga kita plating / lapisi dengan PERAK / SILVER , kita menggunakan Copper Sulfate / Cipric Sulfate ( CuSO4 ) sebagai electrolytenya , sedangkan kalau RHODIUM , pelapisannya berbasis Silver Cyanide ( AgCn ).
Bisakah itu dilakukan ? Kalau begitu apakah electrolyte yang digunakan ? Apakah ada yang sudah pernah mencobanya ?

Sebab kalau ada yang sudah mencobanya dan berhasil , saya rasa kita akan bisa melapisi antenna ( atau inductor / resonator / cavity ) tidak lagi dengan perak / silver tetapi dengan SILVER – CHOMIUM “ALLOY” PLATING.

Jika kita ketahui bahwa keunggulan perak adalah resistivitynya yang sangat rendah ( conductance tinggi ) dan lebih rendah daripada emas , tapi memiliki kelemahan masih bisa teroksidasi –lebih cepat dibanding emas- , sedangkan keunggulan rhodium adalah lebih tahan terhadap oksidasi , lebih kuat dan berkilat , namun memiliki resistivity yang lebih tinggi disbanding perak , maka dengan melakukan “pencampuran dengan komposisi / perbandingan tertentu” antara keduanya , akan bisa ditemukan RATIO / KOMPOSISI YANG PALING KOMPROMISTIS.

Artinya antenna atau inductor dsb. tsb. akan bisa memiliki efisiensi puncaknya ( konduktivitas optimal dan daya tahan terhadap oksidasi yang juga optimal ).




Contoh konfigurasi lain. Anode 2 baris agar pelapisan lebih cepat dan rata.






Pada industri / perusahaan2 electro plating besar , banyak yang menggunakan “bola2 plastik” ( khusus untuk ellectro plating ) yang dimasukkan kedalam bak dan akan mengapung memenuhi seluruh permukaan larutan electrolyte.

Bola2 plastic tersebut sanggat effektif menggantikan “pintu” atau tutup bak karena bola2 itu akan menjadi dinding “isolator” yang bisa menjaga suhu larutan agar tetap stabil , menghambat / mengurangi penguapan , meminimalisir terjadinya percikan ( meningkatkan keamamanan ) , serta juga “meskipun seluruh permukaan solution” tertutup , benda kerja maupun anode atau electrode2 tetap bisa dengan mudah dikeluarkan / dimasukkan kedalam bak ( untuk pemeriksaan , perubahan posisi , penggantian dsb ).





Contoh Power Supply / Rectifier untuk electro plating.







Bentuk bak electro plating yang semacam ini bisa / cocok dipakai untuk melakukan pelapisan perak untuk antenna ( baik tube antenna vertical VHF / UHF ) tetapi jika yang disepuh hanya 1 antenna saja sebetulnya baknya tidak perlu setinggi dan sebesar ini( perlu disesuaikan ).

Kalau bak ini bisa untuk plating jumlah yang lebih besar ( sehari minimal ratusan batang / tube ). Untuk antenna “Wire” , Inductor / coil bak ini juga kebesaran.







Contoh lain bak electro plating.






COIL & ANTENNA TERBUAT ( BERLAPIS ) EMAS ? “TIDAK ADA” MANFAATNYA ! ( “TIDAK TAMPAK” PERBEDAANNYA JIKA DIBANDING DENGAN PERAK ).






COIL & ANTENNA TERBUAT ( BERLAPIS ) EMAS ?
“TIDAK ADA” MANFAATNYA ! ( “TIDAK TAMPAK” PERBEDAANNYA JIKA DIBANDING DENGAN PERAK ).

By : Djoko Haryono




Senang membaca bahwa semakin banyak rekan2 ham & experimenter yang sudah ( atau baru memulai ) bereksperiment dengan menggunakan coil & antenna berlapis perak dan bahkan emas ( sebagian lebih kecil lagi sudah melangkah implementasinya sampai mencakup cavity , impedance transformer , power divider / splitter ).

Sejumlah kecil bahkan sudah memasuki tahap produktif. Promosi / iklannya sudah beredar yang isinya penawaran penjualan produk “berlapis emas /perak” hasil karya mereka , atau juga menerima pesanan.

Namun seberapa effektifkan jika sebuah inductor ( coil ) dan atau antenna dibuat dari ( atau lebih tepat dilapis ) emas dan atau perak ?

Berikut ini adalah pandangan pribadi saya. Silahkan dikoreksi jika ternyata jalan pikiran saya yang sesat ( namun harap didukung dengan data2 , parameter dan atau referensi yang jelas ).

01. Improvement dari ( mereka yg. semula menggunakan bahan ) tembaga , berganti ke bahan yang “dilapis” perak , AKAN MEMBERIKAN HASIL PENINGKATAN EFFISIENSI / KINERJA COIL ATAU ANTENNA SECARA CUKUP SIGNIFIKAN ( dengan catatan ….. “penataan” / perhitungan perancangan dari antenna / inductor TETAP PERLU DILAKUKAN SECARA BENAR ATAU AKURAT ….. contoh : meskipun bahan ditingkatkan dari alumunium atau tembaga ke bahan berlapis perak , tetapi penyetelan resonansinya tidak tepat , tetap saja hasilnya tidak akan lebih baik ).

02. Demikian juga pergantian dari bahan tembaga ( atau yg lebih rendah , almunium ) menjadi yang “berlapis emas” , akan bisa memberikan hasil kenaikan effisiensi dari sistem antenna dan atau matching transformer dsb.

03. Namun menurut pendapat saya , adalah salah / keliru jika ada teman yang berpandangan bahwa kita akan memperoleh peningkatan effisiensi lagi jika kita melangkah / mengganti sistem “berlapis perak” ( silver plated ) menjadi “berlapis emas” ( gold plated ).

MENURUT SAYA , PENINGKATAN ITU TIDAK ADA !!
Tidak akan kita dapatkan peningkatan effisiensi transmisi ( pancaran ) jika kita berpindah dari perak ke emas !! Yang akan terjadi justru sedikit penurunan.

04. Kalaupun ada kenaikan effisiensi ( dari perak ke emas ) , maka yang disebut effisiensi itu bukanlah “effisiensi resistansi” ( baca sebagai “pancaran” ) melainkan effisiensi untuk “emas yang lebih tahan oksidasi dalam jangka waktu yang lebih panjang dibanding perak”.

Dalam menghadapi pilihan tsb. saya akan lebih memilih perak dibanding emas. Kalau sistem saya berlapis perak akan memiliki pancaran yg. lebih kuat namun daya tahannya terhadap korosi / oksidasi “hanya” ( katakanlah ) 30 tahun , sedangkan jika saya gunakan sistem yang sama namun berlapis emas pancarannya akan lebih lemah dibanding perak tetapi tahan korosi ( katakanlah ) sampai 60 tahun , maka saya akan memilih yang effisiensi pancarannya lebih tinggi yaitu perak , daripada memilih emas.

05. “BERLAPIS EMAS” LEBIH LAYAK UNTUK DIPILIH HANYA UNTUK TUJUAN2 TERTENTU SAJA.
Menurut saya hanya ada 3 alasan atau penyebab yang layak , mengapa seseorang memilih menggunakan inductor atau antenna ( atau benda apapun yang “bisa terlihat mata” ) berlapis emas atau terbuat dari emas , dan bukan perak :

AAA
Ketidak pahaman ( = tidak tahu ) bahwa perak justru memiliki nilai resistansi yang lebih rendah dibanding emas. Mereka ini hanyalah kelompok yang hanya sekedar / suka “ikut2 an saja”.

BBB
Alasan gengsi atau prestige. Kalau seorang putera mahkota / pangeran dari Timur Tengah / Arab atau keluarga Sultan Brunei memiliki tempat tidur , mobil , antenna atau perabotan / hiasan yang berlapis emas ( bahkan emas murni ) , hal itu selama ini akan dianggap wajar ( tidak aneh ) dimata masyarakat awam karena mereka adalah kalangan “aristocrat / bangsawan” yang uangnya berlimpah. Bagi mereka , emas dan berlian adalah sebuah simbol status dan bukan “kebutuhan / tuntutan teknis / teknologi”.

CCC
Kelompok ke 3 adalah mereka yang membuat antenna atau inductor ( atau komponen lainnya ) berlapis emas karena merasa hal itu benar2 merupakan kebutuhannya. Mereka paham betul tentang “Apa yang sedang dihadapinya dan apa yang dilakukannya”. Tindakannya dilandasi oleh pemahaman yang ( sudah ) benar.

Mereka merancang atau membangun sistem antenna yang ( akan ) dalam jangka panjang akan berada dalam lingkungan atau terpapar kondisi yang sangat berat / ekstrim yang sangat beresiko terjadinya oksidasi / korosi berat seperti di lingkungan2 yg penuh uap bahan kimia atau partikel2 debu kimia yg sangat korosif , temperatur tinggi , ultra violet. Peralatan semacam itu bisa ditemukan terutama pada satelit2 ataupun dilingkungan industri atau kawasan tertentu.

Demikian juga mengapa “benang emas” alias “kawat2 emas super halus” dipakai sebagai penghantar penyambung bagian dalam kaki2 rangkaian IC ( Integrated Circuit ) , hal itu juga karena kebutuhan teknis “koneksi & resintansi yg lebih stabil / tahan dalam jangka lama” tersebut , apalagi mengingat “kawat rambut” tsb. penampangnya demikian kecilnya sehingga sangat rawan terhadap pengaruh oksidasi jika bahannya bukan emas.

JADI APAKAH PILIHAN YANG TERBAIK BAGI KITA ? BERLAPIS PERAK ATAU EMAS ?
Kalau kita mencoba mencermati sedikit lebih detil seputar property ( sifat2 ) perak / silver dan emas / gold , maka bagi saya PERAK MENJADI PILIHAN YANG LEBIH BAIK DIBANDING EMAS , UNTUK SEBAGIAN BESAR IMPLEMENTASI ( PENGGUNAAN ). Meski lebih “murahan” tetapi perak justru memiliki resistansi terendah dibanding berbagai material lainnya , termasuk juga emas. Bukankah itu –yang lebih baik tapi malah lebih murah- justru lebih menguntungkan bagi para praktisi ?!?!

Emas bisa saja kita perlukan , TETAPI HANYA UNTUK KONDISI2 KHUSUS YANG TERBATAS.
MENGAPA ( APA DASARNYA ) SAYA KATAKAN BAHWA LAPISAN PERAK SECARA UMUM JAUH LEBIH MENGUNTUNGKAN DIBANDING LAPISAN EMAS ?

Coba saja kita cermati ( Saya menggunakan patokan Pender – McIL Wain ).
Jika pada daftar properties material2 dibawah ini “Resistivity dalam Micro Ohm” dalam o C saya singkat dengan R , Temperature Coefficient dalam o C saya singkat dengan TC , Maximum Working Temperature dalam o C dengan MWT , Density dalam gr/cm3 dengan D , Tensile Strength dalam lb/in2 , Coefficient Lin. Expansion 10 -6 X ( per o C ) dengan CLE , maka properties masing2 bahan tersebut adalah sbb. :

PERAK / SILVER ( 99.78 % Pure ) :
R 18 o = 1.629
TC 20 α = 0.0038
MWT = 500
D = 10.5
TS ( annealed ) = 42,000
CLE 18.9
PERAK / SILVER ( Electrolytic ) :
R 0 o = 1.468
TC 0 - 100 α = 0.00400
EMAS / GOLD ( 99.9 % )
R 0 o = 2.22
TC 18 - 100 α = 0.00368 20 α = 0.0034
MWT = 500
D = 19.3
TS ( annealed ) = 20,000
CLE 14.12
ALMUNIUM / ALUMINUM ( Pure )
R 0 o = 2.62
TC 0 - 100 α = 0.00423
ALMUNIUM / ALUMINUM ( Wire 61 % Cond. )
R 0 o = 2.607 R 20 = 2.828
TC 18 α = 0.0039
MWT = 300
D = 2.7
TS ( annealed ) = 35,000
CLE 24

TEMBAGA / COPPER ( dibagi dalam 3 standard yaitu annealed , electrolytic dan hard drawn ).
Daftar propertiesnya tidak saya tulis disini.

Untuk electrical resistancenya berbagai jenis alloy , secara umum yang digunakan sebagai standard adalah ( mengacu pada ) campuran NICKEL & CHROMIUM sebagai standard.
Sebagi patokan dasar digunakan campuran 80% Nickel dan 20% Chromium. Pada komposisi tsb. Nickel Chromium Alloy tersebut memiliki ketahanan terhadap oksidasi yang cukup baik dan ketahanan temperature kerja sampai 1100 o C.

Dengan merubah komposisi ( prosentage ) pencampuran ( plus juga prosentage penambahan iron , copper , manganese , zinc dan cobalt , akan bisa didapatkan berbagai tingkatan Resistivity , Temperature Coefficient , Melting point , Magnetic properties , Heat & Corrotion Resistivity sesuai yang kita butuhkan.

Bahan bahan konduktor sendiri dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar yaitu Kelompok Good Conductor ( = semua logam ) dan kelompok Resistive Conductor yaitu Non Metallic atau disebut juga sebagai kelompok Metalloid ( Carbon , Silicon dan Boron ). 3 bahan ini memiliki tingkat penyaluran panas yang agak baik tetapi memiliki non metallic mechanical properties.

JADI KALAU SAYA DIMINTA MEMILIH , APAKAH YG. AKAN SAYA PILIH ?
Kalau saya diminta memilih , saya akan memilih yang “berlapis perak” , dan bukan yang “berlapis emas”. Ngapain milih emas yang resistansi spesifiknya 1.468 micro-Ohm cm daripada emas yang 2.22 micro-Ohm cm itu.

Tapi tentu saja kalau jumlah bagian ( lapisan ) emasnya tebal , ya saya lebih memilih antenna atau peralatan emas dibanding yg perak. Barang itu bisa saya jual lagi , baru uangnya untuk beli antenna berlapis perak. Uang hasil “penukaran ulang” itu pasti masih berlebih , bisa untuk makan “Rawon Setan Surabaya” ber-kali2.

Tapi kalau dalam kondisi umum / biasa , ngapain saya milih antenna berlapis emas. Apalagi , salah2 baru aja dipasang udah ditodong penjahat.
CONTOH GOLD PLATED ANTENNA

Kalau yang dibawah ini –menurut saya- akan lebih bagus performancenya kalau menggunakan Silver plated saja. Gold plated sih bagus juga tapi itu bagi tujuan menghadapi lingkungan yang sangat korosif ( atau untuk tujuan prestige / status social ).

K40 GOLD PLATED STAINLESS STEEL CB MOBILE ANTENNA REPLACEMENT WHIP 57 1/4 INCH

Price: $17.95

K40 Antennas & Accessories K-100G 57.25 Gold Plated Stainless Steel Whip – K40 Antenna Accessory
• 17-7 Stainless Steel 57.25″ Whip Antenna with Gold Plated Finish.
• Special Radiused Tip to Dissipate Static No Static Ball to get Knocked Off

http://redmancbparts.com/k40-gold-plated-stainless-steel.../

INI BARU BETUL ( EFFISIEN ). SILVER PLATED ANTENNA WITH GOLD PLATED CONNECTOR.

Product Description
SHAKESPEARE Mariner 8900 8' 6dB VHF Antennawith Silver-Plated Elements & Gold-Plated Connector
Model # 6966071 | Mfg # 8900
$219.99

The Mariner 8900 features a maximum range antenna rig with an integrated extra-tough fiberglass radome. For windy conditions, high speeds and rough seas, this rugged unit stands up strong when mounted on hard tops, T-tops and radar arches. Silver plating beefs up performance for crystal clear communication. Includes ‘no-solder’ gold centerpin, PL-259 connector.
 
• Application: Premium Marine VHF
• Gain: 6dB
• Length: 8'
• Material: Fiberglass w/polyurethane finish
• Elements: Silver-plated brass
• Base Type: Stainless steel
• Lead: 20' RG-8X Coax, PL-259

• Warranty: Five years

http://www.westmarine.com/.../shakespeare--mariner-8900-8...

K40 Gold Plated Stainless Steel Cb Mobile antenna Replacement WHip 57 1/4 Inch
redmancbparts.com


 
K40, Whip Antenna with Gold Plated Finish.


Kalau yang diinginkan adalah pengaturan kebutuhan kekuatan konduktornya ( kekuatan fisik bahan ) dibanding resistansinya dari tembaga ( copper ) untuk listrik , pencampuran antara Copper dengan Beryllium sering dilakukan.

Tergantung dari komposisi ( persentagenya ) maka Bertllium Copper Alloy ini memilik Tensile Strength antara 70.000 - 180.000 psi. Ada 2 macam heat treated untuk pembuatan alloy tsb. :

1. Heat treated untuk mendapat hardness tertinggi.
2. Heat treated untuk mendapat conductivity tertinggi.

ANGKANYA SEDIKIT BERBEDA TETAPI URUTANNYA TETAP SAMA
( ARTINYA RESISTIVITY PERAK/SILVER TETAP LEBIH BAIK DARI EMAS/GOLD ).

Yang dibawah ini berasal dari sumber referensi lain lagi yaitu dari Wikipedia. Hanya angkanya saja yg sedikit berbeda dengan data dari buku saya yg sudah saya simpan / beli sejak tgl 8 Desember 1981 , tetapi urutan "keunggulan" bahan2 tsb. TETAP SAMA sejak dulu>

Perak/Silver tetap paling unggul ( resistansinya paling rendah ) , lalu dibawahnya ada emas/gold , ke 3 adalah tembaga dan ke 4 alias "terburuk" adalah almunium.

Sumber2 referensi lainnya lagi hasilnya ya sama saja.

Tapi kalau dilihat dari segi ketahanannya terhadap oksidasi , emas lebih bagus dari perak.

Jadi saya yakin bahwa kalau ada yang bereksperiment dan hasil effisiensi antennanya justru emas diatas perak , coba diteliti ulang lagi lebih cermat dimana "something wrong"nya.

http://en.wikipedia.org/.../Electrical_resistivity_and...

Silver
1.59×10−8 6.30×107 0.0038 [16][17]

Copper
1.68×10−8 5.96×107 0.003862 [18]

Annealed copper[note 2]
1.72×10−8 5.80×107 0.00393 [19]

Gold[note 3]
2.44×10−8 4.10×107 0.0034 [16]

Aluminium[note 4]
2.82×10−8


Electrical resistivity (also known as resistivity, specific electrical resistance, or volume resistivity) is an intrinsic property that quantifies how strongly a given material opposes the flow of electric current. A low resistivity indicates a material that readily allows the movement of electric c…

en.wikipedia.org

STACKING TANPA T-CONNECTOR , TETAPI JUGA TANPA POWER SPLITTER / DIVIDER.






STACKING TANPA T-CONNECTOR , TETAPI JUGA TANPA POWER SPLITTER / DIVIDER

By: Djoko Haryono



Sebagian dari rekan amatir radio ada yang terbiasa menggunakan istilah “Stacking Antenna menggunakan T-Connector” ( yang disebut bukan nama matching devicenya semisal Power Divider , Power Splitter , ¼ Lambda Transformer dsb. Hal itu untuk membedakan ( menunjukkan ) bahwa kalau pada pada sistem yang lain ( Power Divider ) T-connector tidak lagi digunakan ( atau kalau jumlah antennanya banyak, T-Connectotnya hanya –katakanlah- 1 bh. saja. 

Kalau saya lebih suka menggunakan istilah “Matching Transformer” ( ¼ Lambda Transformer ) atau Matching Harness , dibanding menggunakan istilah stacking menggunakan “T-Connector” karena yang menjadikan matching itu adalah transformernya dan bukan connectornya.

Apalagi kalau seorang amateur radio menginginkan melakukan stacking dengan effisiensi yang sangat tinggi , maka untuk maksud membuat sambungan parallel antara antenna2 yang akan di stack dan memakai matching transformer , maka effisiensi tertinggi justru didapat dengan MENGHILANGKAN / MENIADAKAN CONNECTOR pada sambungan2 antar kabel.
Connector2 ( termasuk juga pemakaian T- Connector , dan juga Power Divider yang dilengkapi connector ) umumnya hanya dipergunakan pada komunikasi “Darat ke Darat” ,aupun pada sistem “Broadcast”.

Tetapi pada jenis2 komunikasi yang ( lebih / makin ) menuntut tingkat effisiensi tertinggi ( baik komunikasi satelit dan APALAGI komunikasi EME / MOONBOUNCE ) maka sering para amateur radio malah harus “MEMBUANG” ( tidak menggunakan ) Connector dan hanya memakai connector sesedikit mungkin misalnya pada output / terminal antenna Transceicer.

Connector / male-female / T-Connector / sambungan connector / barrel maupun komponen apapun yang terpasang pada saluran transmisi / coax dan terletak diantara transceiver dan ( rangkaian ) antenna memiliki dan menimbulkan rugi2 ( losses ) yang disebut INSERTION LOSS. Pada setiap ( atau masing2 connector atau komponen / instrument ) itu menimbulkan losses yang –katakanlah- dibawah 1 dB ( misalnya nol koma sekian dB ) sampai lebih dari 1 atau 2 dB untuk instrument2 tertentu , TETAPI PADA KOMUNIKASI EME dan RUANG ANGKASA , ITU SEMUA KALAU DIJUMLAHKAN , JUMLAHNYA SUDAH CUKUP UNTUK MENGGAGALKAN KOMUNIKASI.

Demikian tingginya persyaratan losses ( dan juga tuntutan tingkat noise yang harus serendah mungkin ) pada beberapa jenis komunikasi semacam itu. Itulah sebabnya connector2 sering “tidak laku” dan perlu disingkirkan pada stacking2 antenna atau sistem semacam itu. Koneksi / sambungan antara ‘jarum” inner connector male terhadap connector female yg kurang erat ( apalagi ada oksidasi ) sudah mampu menjadi tambahan sumber noise.

Kalau bisa , tidak lagi ada connector dan semua sambungan yg ada harus “tersolder erat” , menyatu dan terhubung langsung. Ujung2 braid harus terlindungi rapat dan tersolder “mati” sati sama lain.
Hanya dengan “semua tersambung langsung” semacam ini effisiensi saluran transmisi / coaxial dan antenna akan bisa mencapai effisiensi tertinnginya , memiliki tinggkat “noise temperature” terbaik / terlayak.

Disinilah istilah “T-Connector” atau “T-Connector Stacking” menjadi tidak lagi terpakai.
Meski metode semacam ini hanya umum digunakan pada jenis2 komunikasi radio yang sangat sulit ( komunikasi EME ) , tetapi bukan berarti cara ini tidak bisa dipakai pada komunikasi “biasa” ( darat ke darat ). Kalau dipraktekkan untuk komunikasi darat , TETAP AKAN BISA MENAIKKAN EFFISIENSI asalkan dirancang dan dibuat dengan benar ( harus tahan hujan / kelembaban / setelah selesai dibuat dirapatkan kedap cuaca dengan bahan epoxy dsb ).

Itulah sebagian alasan mengapa saya lebih tertarik menggunakan istilah matcing transformer , harness atau divider / splitter , dibanding mekaia istilah “men-stack menggunakan T-Connector”

Pada bagian bawah ( sekitar akhir ) artikel ini kita bisa melihat bagaimana sebuah antenna stacking dimana T-Connector malah “dibuang” karena merugikan ( tapi bagian lainnya dari link DK7ZB dibawah ini adalah cara2 stacking “biasa” yang dipakai pada komunikasi darat pada umumnya

Mungkin hanya karena kebiasaan penulis artikel tsb. yang sudah biasa melakukan experiment komunikasi yg memanfaatkan “memantulkan signal radio dengan menembakkan / mengarahkan nya ke permukaan bulan / Earth Moon Earth / EME / Moonbounce” itu membuat ia jadi terbiasa mengajarkan cara stacking yang tanpa menggunakan connector meski hanya untuk komunikasi bumi kebumi saja ).

http://www.qsl.net/dk7zb/Stacking/coax.htm



Dan penambahan selubung / sleeve pelindung tembaga yang menutupi setiap ujung coax itu tidak hanya sekedar agar didapat "positive soldering" saja / solderan kuat dan bagian braid/anyaman / outer coax tidak bisa lagi bergeser-geser ketika kabel dipegang , antenna ditat dsb ), tetapi yang lebih penting adalah itu untuk MEMINIMALISIR KEBOCORAN RF yg bisa terjadi di ujung2 kabel yang braidnya kendor/tidak rapat , bergeser atau putus sebagian karena gerakan2 atau akibat dampak dari proses pengerjaan koneksi.

Dengan cara ini fungsi shield betul2 full shielding. Nyoldernya harus hati2 agar tidak melelehkan / mmpengaruhi bentuk bahan2 isolator dari coax. Jadi kapasitas solder yg dipakai harus tepat. Semua bahan sebaiknya bahan baru ( belum teroksidasi sehingga penyolderan bisa dilakukan singkat tapi sempurna ).

Titik2 parallel semacam ini selalu ditempatkan didalam wadah/kotak yang bisa ditutup rapat tahan cuaca , jadi sambungan2 dan ujung2 coaxnya tidak ter-expose langsung pada panas matahari , hujan , salju debu dsb. ).

PANJANG CONNECTOR , SAMBUNGAN CONNECTOR , PENANGKAL PETIR DSB. ( APAPUN ) YANG ADA DISEPANJANG COAX ( ANTARA ANTENNA & SWR METER DIDEKAT TX ) HARUS IKUT “DIHITUNG” !!





PANJANG CONNECTOR , SAMBUNGAN CONNECTOR , PENANGKAL PETIR DSB. ( APAPUN ) YANG ADA DISEPANJANG COAX ( ANTARA ANTENNA & SWR METER DIDEKAT TX ) HARUS IKUT “DIHITUNG” !!

By: Djoko Haryono

Topik ini adalah "sempalan" ( Jawa "cuilan" ) dari diskusi lain bertopik "Nilai SWR diperkecil , power juga ikut mengecil , mumet !" yang ditulis Setyo Wibowo 10 August 2014 10:06pm di group K.A.I.

Karena comment saya disitu sudah mulai "berbelok" ke masalah berbeda ( connector ) maka saya "cuil" sebagian bahasan itu menjadi topik baru agar ( kalau bisa ) tidak terlalu mengganggu diskusi ditopik aslinya.

Itu ada beberapa sumber kemungkinannnya , tapi kemungkinan yang paling besar adalah "nilai / penunjukan SWR yang anda baca itu adalah nilai semu , bukan nilai SWR sebenarnya".

SWR meter mudah /sering membohongi kita dan memberikan penunjukan palsu. Hal seperti itu TERKADANG terjadi ( = terjadinya "transformasi" atau perubahan nilai impedansi. Nilai impedansi diujung bawah coax muncul berbeda dengan nilai impedansi / matching yg sebenarnya. Nilai seberapa match/unmatch antenna itu SEBENARNYA LETAKNYA YA DI TITIK SAMBUNGAN ANTENNA , DIUJUNG ATAS COAX SANA ! Jadi nilai kecocokan antenna itu tempatnya sebetulnya bukan didekat TX ).

Tipuan oleh SWR meter semacam ini mudah terjadi ketika/jika kondisi impedansi antenna masih reactive ( belum resistive ).

Coba anda pindahkan ( sementara ) SWR meter anda kedekat antenna ( diatas tiang , diujung atas coax ) , maka kemungkinan besar , angka SWR yang dibawah terbaca rendah itu , kalau diatas -yg diukur betul2 matching antenna- penunjukan SWR nya ternyata tinggi !!

Kalau anda tetap ingin ( bisa ) membaca SWR meternya dibawah , didekat TX , diruang station , tapi tidak ingin / mau ditipu oleh SWR meter ( yg memang kadang2 berbohong jika kita salah menggunakannya ) , ya rubahlah panjang coax nya.

Tapi ingat : Coax TIDAK BOLEH & TIDAK BISA dipakai untuk menyetel matching antenna. Untuk me matchingkan ya harus antennanya yg di stel atau menambahkan matching device.

Jadi disini ( yg saya sarankan ini ) merubah panjang coax , BUKAN untuk merubah kondisi unmatch yg masih terjadi di antenna lho , tapi hanya untuk "membuang" sifat suka berbohong yg dimiliki SWR meter yg memakai sistem berbasis voltage atau current -dan tidak terjadi pada SWR meter jenis thruline wattmeter yg berbasis daya-

Rubah panjang coax anda menjadi :

1. "Panjangnya merupakah kelipatan 1/2 lambda electric ( yg disebut lambda elektrik , bukan fisik , adalah velocity factor dari coax yg dipakai harus ikut diperhitungkan".

Kalimat diatas itu punya arti sama dengan kalimat2 lain yaitu :

2. Merupakan kelipatan dari 1/2 lambda effektif.
3. Merupakan KELIPATAN GENAP dari 1/4 lambda elektrik.
4. Merupakan KELIPATAN GENAP dari 1/4 lambda effektif.

Begitu coax anda panjangnya sesuai prosedur "anti tipu2" diatas , maka -tanpa antenna anda rubah dulu- yang akan terbaca nanti adalah SWR anda ( sebenarnya ) masih tinggi. Hasil pengukurannya akan sama dengan kalau SWR meter anda anda pasang di antenna / diatas.

Setelah anda tahu SWR anda masih tinggi , barulah stel kembali antenna anda sampai SWR nya terendah.

( kalau setelah itu swr anda sudah benar2 rendah , ANDA BEBAS memakai panjang coax berapapun !! tanpa ditipu SWR meter lagi. Tapi pengertian dari "panjang berapapun" itu harus dalam batas2 total lossesnya tidak boleh sampai tinggi lho ya ! ).

PANJANG CONNECTOR , SAMBUNGAN CONNECTOR , PENANGKAL PETIR DSB. ( APAPUN ) YANG ADA DISEPANJANG COAX ( ANTARA ANTENNA & SWR METER DIDEKAT TX ) HARUS IKUT “DIHITUNG” !!

Apa yang saya tulis berikut ini , meski sudah saya tulis disini , saya masih akan mengulangnya menuliskannya lagi ( bisa secara lebih detil tapi juga bisa saya akan pertahankan tulisan yang singkat sederhana ) dlm. 1 atau beberapa hari kedepan , memisahkannya kedalam sebuah judul topik baru , artinya keluar dari diskusi ini.

Mengapa demikian ? Karena menurut pengamatan saya selama ini , masalah “panjang coax itu berarti TERMASUK panjang connector2 nya” ini adalah masalah yang masih sangat minim / kurang / belum diketahui atau disadari oleh sebagian besar praktisi.

Dalam tulisan saya sebelum ini , saya membahas tentang “panjang coax ( saluran transmisi ) yang dibuat agar panjangnya merupakan KELIPATAN ½ LAMBDA ELECTRIC akan menjadikan VSWR Meter kita “tidak lagi suka / bisa berbohong” atau menipu kita dengan ( terkadang ) menampilkan penunjukan nilai SWR yang semu/palsu ( yang umumnya lebih rendah dari kondisi real yang “dihasilkan” antenna kita ).

Dari link yang saya sertakan pada akhir tulisan ini ( yang isinya penjelasan mengenai kompleksitas impedansi yang bisa muncul pada kabel saluran transmisi ) , pada halaman 10 dijelaskan bahwa pada suatu saluran transmisi yang sedang bekerja yang panjangnya merupakan KELIPATAN ( MULTIPLE ) DARI ½ LAMBDA ELECTRIC FREKUENSI KERJANYA ( atau bahkan juga pada SETIAP TITIK yang berjarak kelipatan ½ lambda electric disepanjang kabel ) , maka kondisi atau situasi pada titik2 tersebut mirip sebuah KACA CERMIN ( MIRROR ) dimana disitulah situasi IMPEDANSI REAL YANG ADA DARI ANTENNA atau INPUT ( dalam memperhitungkan masalah timbulnya gelombang pantulan / reflected dari arah antenna yg kembali kearah pemancar maka titik feedpoint antenna kita anggap sebagai titik inputnya dan titik TX / ujung bawah coax sebagai outputnya ) AKAN SELALU TERULANG “TERLIHAT” ( MUNCUL ) DALAM KONDISI YANG SAMA.

Ada juga sebagian ahli yang menyebut titik2 yang berjarak ( kelipatan dari ) ½ lamba electric itu sebagai titik2 “REPEATER” karena disana besaran2 impedansi antenna akan terbaca kembali. Sedangkan pada titik2 lainnya situasinya berbeda lagi ( kalau diukur , impedansi yang terbaca akan berbeda dengan impedansi real yang terukur dititik antenna ).

If you have a length of line that is an exact electrical half wavelength or a true
multiple of a half wavelength long at a particular frequency this is often referred to as a “repeater” line section, tending to mirror (or repeat) the impedance that is “seen” at the input, at the output.

Juga dari artikel/referensi tersebut kita bisa mempelajari dan mengenal bahwa APA YANG DISEBUT DENGAN “PANJANG COAXIAL” DISINI HARUSLAH JUGA TERMASUK ( MENGIKUTKAN ) PANJANG CONNECTOR2NYA ATAU SAMBUNGAN APAPUN YANG ADA SEPANJANG KABEL DARI ANTENNA SAMPAI KE SWR METER DIBAWAH.

Jadi kalau diantara panjang itu ada ( misalnya ) terpasang lightning arrester , atau sambungan connector ( misalnya kabelnya kependekan lalu pernah ditambahi panjangnya dengan sepotong kabel lain beserta connector2nya ) , maka semuanya harus dihitung sebagai bagian dari apa yang kita maksud dengan panjang coax itu.

Kelalaian menghitung itu ( terutama jika ada beberapa “sambungan” sepanjang kabel ) bisa menyebabkan kita salah hitung ketika menentukan “panjang kelipatan ½ lambda electric” itu. Pada UHF ( apalagi SHF ) kesalahan itu bisa menimbulkan akibat yang lebih “fatal” ( misalnya tanpa kita sadari coax kita malah menjadi matching transformer yang “kelipatan ganjil ¼ lambda electric” dsb. )

Bear in mind that in practice, you must account for the effective lengths of connectors
when developing practical networks of cables, subtracting these lengths from your actual cable measurements as appropriate.

http://home.comcast.net/.../The%20fifty%20ohm%20enigma_w...

Salam ,

Djoko Haryono.

Propagasi hari ini